default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

PICB Balumbung: 4 Titik Kekunoan Berkorelasi Dengan Situs Mellek

PICB Balumbung: 4 Titik Kekunoan Berkorelasi Dengan Situs Mellek
Sejarah
Kekunoan di Dusun Widoro Pasar, Desa/Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo berupa Prasasti berangka tahun 1377 Caka/1455 Masehi.
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

SITUBONDO- PICB (Pusat Informasi Cagar Budaya) Balumbung menyimpulkan jika kekunoan dalam lini masa klasik pada radius sekitar 5 km dari Situs Mellek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur merupakan satu kesatuan situs. Hal itu diungkapkan Koordinator Bidang Sejarah PICB Balumbung, Kim La Capra, Selasa (26/11/2019) petang.

"Adapun temuan arkeologis yang bertebaran di wilayah Kecamatan Banyuputih, masih satu rangkaian dengan Situs Mellek, baik itu  lumpang-lumpang batu di kekunoan Dusun Lessong, inskripsi berangka tahun 1377 caka di Dusun Widoro Pasar dan Ghunong Lembu di Dusun Sukorejo serta batu bakalan prasasti di kekunoan Dusun Krajan Desa Banyuputih. Artinya, dalam radius kurang lebih 5 km dari Situs Mellek sendiri, Cagar Budaya dalam area tersebut, dari konteks sejarahnya masih sezaman dengan Situs Mellek. Semuanya memiliki korelasi sebagai data pendukung  lini masa historisitas Mellek," jelas Kim La Capra.

Koordinator PICB Balumbung, Irwan Rakhday menyebut bahwa pengklasifikasian itu tentu merombak registrasi yang ada. Situs Lesung dan Situs Widoro Pasar yang tertulis Situs Sumberejo nantinya masuk ke dalam Situs Mellek . Bahkan keletakan sejumlah blok di pusat  Situs Mellek sendiri  sudah teridentifikasi seperti Blok Batur, Blok Ghunong Berdhi, juga Blok kekunoan berupa struktur di pinggir kali yang diidentifikasi pada Agustus 2017 dengan register 62/STB/2017 oleh BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur," ungkap Irwan.

Terkait hal itu, Rizky Oesman Soesantiny, salah seorang arkeolog Jawa Timur  memberikan pandangannya.

"Jika  dalam konteks ruangnya merupakan satu kesatuan atau dalam artian ada hubungan secara kebudayaan antara struktur yang ada, maka dibuat saja satu situs, walau saat ini keletakan administrasinya berbeda," ucapnya.

Ditambahkan, jika para peneliti harus tahu luasan situsnya. Luasan ini didasari pada sebaran temuan yang berkonteks, atau batas kekinian, atau juga batas kepemilikan lahan. Jika batas kebudayaan, jelas itu lebih baik.

"Kalau dikategorikan sebagai sebuah kawasan, minim ada 2 situs, walau luas,  tapi kalau satu konteks maka tetap satu situs. Tidak dapat menjastifikasi berdasarkan luas tapi menjastifikasilah berdasarkan konteks. Sebab dalam ilmu arkeologi ada 3 hal yang menjadi dasar yaitu bentuk, ruang dan waktu,"  imbuhnya.(*)


Kontributor : Sarwo Edy
Editor : Irwan Rakhday
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar